wowwwwwwwww ......pasankan plink srasi di indonesia,,eeeeeeeeeeee salah di JAGAT RAYA Hhe.......he......he..........
www.@vir4eveRfriend.co.id
Senin, 04 April 2011
Jumat, 01 April 2011
Jumat, 11 Maret 2011
clon ma'had
| | P O N D O K P E S A N T R E N |
| L A N G I T A N | |
| Jl. Raya Babat - Tuban PO. BOX 02 Babat 62271 | |
| Telp. (0322)451156 Fax. (0322)453194 |
| e-mail : langitan@plasa.com - langitan@langitan.cjb.net | |
| upload pertama :28-02-2005 M | |
| Klik : seputarlangitan.cjb.net | |||
| PONDOK PESANTREN LANGITAN | |||
Lebih dari satu setengah abad Pondok Pesantren Langitan telah memberikan sumbangsih dan kontribusinya dalam rangka ikut memberdayakan sumber daya manusia (SDM) dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Goresan emas telah terukir, sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dianulir.
Melihat betapa besarnya kiprah dan peranan yang telah disumbangkannya kepada agama, masyarakat dan bangsa, maka sudah selayaknya bila akhir-akhir ini banyak kalangan yang bersimpati dan memberikan respon positif terhadap eksistensi Pondok Pesantren Langitan.
Agar mempermudah semua pihak baik santri, alumni, atau masyarakat secara umum dalam mengenal lebih dekat keberadaan Pondok Pesantren Langitan, maka berikut ini kami sajikan “potret” Pondok Pesantren Langitan dalam bentuk tulisan yang sederhana. Semoga bermanfaat. Amin.
Pondok Pesantren Langitan adalah termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852 M, di Dusun Mandungan Desa Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur.
Komplek Pondok Pesantren Langitan terletak di samping Bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar serta pada ketinggian kira-kira tujuh meter di atas permukaan laut. Lokasi pondok berada kira-kira empat ratus meter sebelah selatan ibukota Kecamatan Widang, atau kurang lebih tiga puluh kilo meter sebelah selatan ibukota Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan Desa Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilo meter.
Dengan lokasi yang setrategis ini Pondok Pesantren Langitan menjadi mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain.
Adapun nama Langitan itu adalah merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang (jawa) berarti papan nama dan wetan (jawa) yang berarti timur. Memang di sekitar daerah Widang dahulu, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama "Plangitan" dan selanjutnya populer menjadi Langitan.
Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab “Fathul Mu’in” yang selesai ditulis tangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Robiul Akhir 1297 H.
Lembaga pendidikan yang sekarang ini dihuni oleh lebih dari 5500 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian Malaysia ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni penjajah dari tanah Jawa.
KH. Muhammad Nur mengasuh pondok ini kira-kira selama 18 tahun (1852-1870 M), kepengasuhan pondok pesantren selanjutnya dipegang oleh putranya, KH. Ahmad Sholeh. Setelah kira-kira 32 tahun mengasuh pondok pesantren Langitan (1870-1902 M.) akhirnya beliau wafat dan kepengasuhan selanjutnya diteruskan oleh putra menantu, KH. Muhammad Khozin. Beliau sendiri mengasuh pondok ini selama 19 tahun (1902-1921 M.). Setelah beliau wafat matarantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya, KH. Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun (1921-1971 M.), dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik kandungnya yaitu KH. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun ( 1971-2000 M. ) dan keponakannya yakni KH. Abdulloh Faqih. Untuk lebih jelasnya tentang biografi para Pengasuh Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca dalam “Biografi Ringkas Lima Pengasuh Pondok Pesantren Langitan”.
Perjalanan Pondok Pesantren Langitan dari periode ke periode selanjutnya senantiasa memperlihatkan peningkatan yang dinamis dan signifikan namun perkembangannya terjadi secara gradual dan kondisional. Bermula dari masa KH. Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa KH. Ahmad Sholeh dan KH. Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdulloh Faqih yang tidak lain adalah fase pembaharuan.
Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil Pondok Pesantren Langitan kini telah berkembang menjadi sebuah pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ary, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As’ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.
Dengan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok Pesantren Langitan dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.
Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.
Sehingga dengan demikian Pondok Pesantren Langitan tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.
| | | |||
Pondok pesantren secara umum bagaimanapun tipe dan latar belakangnya meletakkan pendidikan dan pengajaran sebagai tolak ukur bagi aktifitas-aktifitas lainnya. Dapat dikatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah merupakan jantung dan sumber kehidupan terhadap kelangsungan dan eksistensi sebuah pesantren.
1. TUJUAN
Tujuan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Langitan adalah tidak lepas dari tiga pokok dasar:
a. Membina anak didik menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas (‘alim) yang bersedia mengamalkan ilmunya, rela berkorban dan berjuang dalam menegakkan syiar Islam.
b. Membina anak didik menjadi manusia yang mempunyai keperibadian yang baik (sholeh) dan bertaqwa kepada Alloh SWT serta bersedia menjalankan syariatnya.
c. Membina anak didik yang cakap dalam persoalan agama (kafi), yang dapat menempatkan masalah agama pada proporsinya, dan bisa memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat
| | |
my ma'had
SEJARAH RINGKAS PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT MEDALI
I. Tahap Awal
Mbah R. Nur Faqih Harja Diwiryo, menempati lahan ini, dalam keadaan masih rawan dalam segala hal. Dengn ketekunan, kesabaran dan keikhlasannya, dapat di tempati bersama istri dan anaknya.
Pertama tanah yang ia tempati kurang lebih hanya 4 hektar, yang pada akhirnya dapat menambah beberapa hektar lagi sampai beliau wafat pada 1952.
II. Tahap Kedua
Tahun 1952 setelah ditinggal wafat Mbah R. Nur Faqih Harja Diwiryo yang masih ada kaitan silsilah dengan Mbah Sunan Giri ini, dilanjutkan oleh putra menantunya yang bernama Mbah KH. Mohammad Shoib. Beliau mulai merintis pengajian dimulai dari membaca Al Quran, lalu kejenjang semacam diniyah (manulis arab) dengan pelajaran tauhid, fiqih, ahlaq dan ilmu-ilmu agama yang lain.
Setelah ada santri beberapa anak, maka di kembangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat sekitar untuk di ajak berjamaah seminggu sekali. Kegiatan ini diadakan setiap hari selasa, yang meliputi jamaah sholat Dhuhur, pengajian tentang ilmu agama sampai jamaah sholat Ashar.
Alhamdulillah, apa yang dirintis oleh Mbah KH. Mohammad Shoib dapat dipertahankan sampai pada saat ini. Bahkan boleh di bilang dapat berkembang dengan baik.
III. Tahap Pengembangan
Di era 70an, putra putri Mbah KH. Mohammmad Shoib telah pulang dari pindok pesantren, tempat mereka mengaji memperdalam ilmu agama. Antara lain dari pondok Makam Agung Tuban, Langitan, dan peterongan Jombang.
Berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh, maka putra putri beliau mulai menata ulang pondok pesantren. Baik secara administrasi maupun menejemennya.
Tepatnya pada tahun 1975 pondok pesantren mulai dibenahi baik tempat, sistem pendidikan, jadwal kegiatan dan pendanaannya. Adapaun yang terjun langsung dalam pembenahan pondok pesantren adalah putra belilau KH. F Ghufron Achmadi.
Sampai pada tahun 1977 para santri masih tertata dalam kegiatan pondok pesantren. KH. F Ghufron Achmadi mulai memikirkan perlu adanya perhatian tentang masa depan santri untuk menghadapi persaingan dalam era globalisasi. Itu berarti Santri juga perlu pendidikan formal. Maka lahirlah Madrasah Tsanawiyah pada tahun ini. Dengan fasilitas seadanya sesuai dengan kondisi pondok saat itu.
Setelah tamatan Madrasah Tsanawiyah menumpuk selama enam tahun (1979-1983). Ternyata banyak alumni MTs yang tidak dapat melanjutkan jenjang yang lebih tinggi yang hanya ada di kota. Sebabpada saat itu di kecamatan Sugio belum ada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan setingkatnya.
Sehingga alumni MTs yang ingin melanjutkan jenjang yang
lebih tinggi harus ke kota seperti kalau melanjutkan PGAN harus ke Mojokerto atau ke Bojonegoro dan bila ingin melanjutkan SMA harus ke Lamongan. Melihat situasi ini maka pondok pesantren pada tahun 1983 memberanikan diri mendirikan SMA, sekaligus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum. Pendidikan formal yang ada di beri nama Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum (LP3DU).
Dengan pengelolahan pendidikan dalam pondok pesantren yang berjalan baik.
Maka pemerintah berminat untuk kerja sama dengan pondok pesantren. Pemerintah menawarkan sekolah negeri. Dengan pembagian, tanah disediakan pondok pesantren, gedung dan guru disediakan oleh pemerintah. Pondok pesantren juga berhak memasukkan pendidikan agama. Maka tepatnya pada tahun 1996, didirikanlah SMPN 3 Sugio di kompleks peondok pesantren sunan drajat. Atas kerja sama pemerintah dengan pondok pesantren
Maka pemerintah berminat untuk kerja sama dengan pondok pesantren. Pemerintah menawarkan sekolah negeri. Dengan pembagian, tanah disediakan pondok pesantren, gedung dan guru disediakan oleh pemerintah. Pondok pesantren juga berhak memasukkan pendidikan agama. Maka tepatnya pada tahun 1996, didirikanlah SMPN 3 Sugio di kompleks peondok pesantren sunan drajat. Atas kerja sama pemerintah dengan pondok pesantrenIV. Masa Sekarang
Hasil jerih payah sesepuh
dan dukungan generasi penerusnya.
Terwujudlah Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum memiliki 75 tenaga pengajar dan 975 anak murid. Bahkan sekarang pengajian setiap hari selasa dimantapkan dengan Thoriqoh Qodriyah Wan Naqsyabandiyah.
Diposkan oleh cakmuch di 02:41
Senin, 07 Februari 2011
maulid nabi
Hari ini Jumat 26 Februari 2010 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1431 H. ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.
Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di bebarapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.
Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.
Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.
Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.
Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.
Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.
Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, " dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui." (Qs. At-Taubah: 103).
Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.
Wallaahu ‘a’lam bisshowaab.
Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di bebarapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.
Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.
Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.
Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.
Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Kenyataan saat ini telah membuktikan, bahwa disebabkan belum bersungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam mengarungi perjuangan hidup, maka kehidupan kaum muslimin saat ini cenderung terperosok menjadi ummat terbelakang, dibandingkan dengan ummat-ummat lain di hampir semua bidang kehidupan.
Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).
Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.
Kebiasaan mengabaikan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita.
Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.
Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.
Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.
Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.
Imam Ibnu Atho’illah menyatakan : “Janganlah kamu membanggakan warid yang belum kamu ketahui buahnya. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan itu bukanlah hujan. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan adalah wujudnya buah-buah pepohonan”.
Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.
Buahnya adalah “Mutiara hikmah dan perubahan”. Perubahan menjadi lebih baik. Lebih utuh dan lebih bersungguh-sungguh dalam meneladani Rosulullah SAW dalam seluruh sisi kehidupan kita. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.
Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.
Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, " dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui." (Qs. At-Taubah: 103).
Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.
Wallaahu ‘a’lam bisshowaab.
kenakalan remaja
Sekarank zaman sdh smkin tua kenekalan2 pada zaman skrank smkin meraja lela ,ank smp sdah pulank pergi dg orng lain yank bkan keluarga/krabtx.
Kta sbaga generasi pneruz bnksa,marilah kta junjunk martabt bngsa indonesia agr kta bergna bgi nsu ,banksa,a9ama .
Kta sbaga generasi pneruz bnksa,marilah kta junjunk martabt bngsa indonesia agr kta bergna bgi nsu ,banksa,a9ama .
Senin, 31 Januari 2011
Sabtu, 29 Januari 2011
ponpes
ponpez a/ tmpt kta mncri ilmu agama.
klo png3n pux ilmu agma prgila ke MEDALI DALIWANGUN dsana da ponpesSNAN DRJAT dbwa phon gayam..............................................
______avir____
klo png3n pux ilmu agma prgila ke MEDALI DALIWANGUN dsana da ponpesSNAN DRJAT dbwa phon gayam..............................................
______avir____
Senin, 24 Januari 2011
hoooooooooooooooooobi
hobi saya bersantai sambil memandangi alam sekitar .......................................................
Langganan:
Postingan (Atom)




