Jumat, 11 Maret 2011

clon ma'had

MEMPERTAHANKAN NILAI-NILAI SALAF YANG RELEVAN DAN MENGAMBIL HAL BARU YANG LEBIH BAIK
 
P  O  N  D  O  K    P  E  S A  N  T  R  E  N
L  A  N  G  I  T  A  N
Jl. Raya Babat - Tuban PO. BOX 02 Babat 62271
Telp. (0322)451156 Fax. (0322)453194
28/02/2005 17:30
                   e-mail : langitan@plasa.com - langitan@langitan.cjb.net
WALAU SANGAT SEDERHANA SEMOGA WEB INI DAPAT MEMBERI MANFAAT DAN KAMI TUNGGU KRITIK SERTA SARANNYA
upload pertama :28-02-2005 M
PONDOK PESANTREN LANGITAN
Lebih dari satu  setengah abad Pondok Pesantren Langitan telah memberikan sumbangsih dan kontribusinya dalam rangka ikut memberdayakan sumber daya manusia (SDM) dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Goresan emas telah terukir, sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dianulir.
Melihat betapa besarnya kiprah dan peranan yang telah disumbangkannya kepada agama, masyarakat dan bangsa, maka sudah selayaknya bila akhir-akhir ini banyak kalangan yang bersimpati dan memberikan respon positif terhadap eksistensi Pondok Pesantren Langitan.
Agar mempermudah semua pihak baik santri, alumni, atau masyarakat secara umum dalam mengenal lebih dekat keberadaan Pondok Pesantren Langitan, maka berikut ini kami sajikan “potret” Pondok Pesantren Langitan dalam bentuk tulisan yang sederhana. Semoga bermanfaat. Amin.
Pondok Pesantren Langitan adalah termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852 M, di Dusun Mandungan Desa Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur.
Komplek Pondok Pesantren Langitan terletak di samping Bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar serta pada ketinggian kira-kira tujuh meter di atas permukaan laut. Lokasi pondok berada kira-kira empat ratus meter sebelah selatan ibukota Kecamatan Widang, atau kurang lebih tiga puluh kilo meter sebelah selatan ibukota Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan Desa Babat Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilo meter.
Dengan lokasi yang setrategis ini Pondok Pesantren Langitan menjadi mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain.
Adapun nama Langitan itu adalah merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang (jawa) berarti papan nama dan wetan (jawa) yang berarti timur. Memang di sekitar daerah Widang dahulu, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama "Plangitan" dan selanjutnya populer menjadi Langitan.
Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab “Fathul Mu’in” yang selesai ditulis tangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Robiul Akhir 1297 H.
Lembaga pendidikan yang sekarang ini dihuni oleh lebih dari 5500 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian Malaysia ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni penjajah dari tanah Jawa.
KH. Muhammad Nur mengasuh pondok ini kira-kira selama 18 tahun (1852-1870 M), kepengasuhan pondok pesantren selanjutnya dipegang oleh putranya, KH. Ahmad Sholeh. Setelah kira-kira 32 tahun mengasuh pondok pesantren Langitan (1870-1902 M.) akhirnya beliau wafat dan kepengasuhan selanjutnya diteruskan oleh putra menantu, KH. Muhammad Khozin. Beliau sendiri mengasuh pondok ini selama 19 tahun (1902-1921 M.). Setelah beliau wafat matarantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya, KH. Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun (1921-1971 M.), dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik kandungnya yaitu KH. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun ( 1971-2000 M. ) dan keponakannya yakni KH. Abdulloh Faqih. Untuk lebih jelasnya tentang biografi para Pengasuh Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca dalam “Biografi Ringkas Lima Pengasuh Pondok Pesantren Langitan”.
Perjalanan Pondok Pesantren Langitan dari periode ke periode selanjutnya senantiasa memperlihatkan peningkatan yang dinamis dan signifikan namun perkembangannya terjadi secara gradual dan kondisional. Bermula dari masa KH. Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa KH. Ahmad Sholeh dan KH. Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada kepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdulloh Faqih yang tidak lain adalah fase pembaharuan.
Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil Pondok Pesantren Langitan kini telah berkembang menjadi sebuah pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ary, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As’ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.
Dengan berpegang teguh pada kaidah “Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok Pesantren Langitan dalam perjalanannya senantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.
Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.
Sehingga dengan demikian Pondok Pesantren Langitan tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif.


Pondok pesantren secara umum bagaimanapun tipe dan latar belakangnya meletakkan pendidikan dan pengajaran sebagai tolak ukur bagi aktifitas-aktifitas lainnya. Dapat dikatakan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah merupakan jantung dan sumber kehidupan terhadap kelangsungan dan eksistensi sebuah pesantren.
Tujuan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Langitan adalah tidak lepas dari tiga pokok dasar:
a. Membina anak didik menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas (‘alim) yang bersedia mengamalkan ilmunya, rela berkorban dan berjuang dalam menegakkan syiar Islam.
b. Membina anak didik menjadi manusia yang mempunyai keperibadian yang baik (sholeh) dan bertaqwa kepada Alloh SWT serta bersedia menjalankan syariatnya.
c. Membina anak didik yang cakap dalam persoalan agama (kafi), yang dapat menempatkan masalah agama pada proporsinya, dan bisa memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat
  Topik 


my ma'had

SEJARAH RINGKAS PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT MEDALI

I. Tahap Awal
Mbah R. Nur Faqih Harja Diwiryo, menempati lahan ini, dalam keadaan masih rawan dalam segala hal. Dengn ketekunan, kesabaran dan keikhlasannya, dapat di tempati bersama istri dan anaknya.
Pertama tanah yang ia tempati kurang lebih hanya 4 hektar, yang pada akhirnya dapat menambah beberapa hektar lagi sampai beliau wafat pada 1952.
II. Tahap Kedua
Tahun 1952 setelah ditinggal wafat Mbah R. Nur Faqih Harja Diwiryo yang masih ada kaitan silsilah dengan Mbah Sunan Giri ini, dilanjutkan oleh putra menantunya yang bernama Mbah KH. Mohammad Shoib. Beliau mulai merintis pengajian dimulai dari membaca Al Quran, lalu kejenjang semacam diniyah (manulis arab) dengan pelajaran tauhid, fiqih, ahlaq dan ilmu-ilmu agama yang lain.
Setelah ada santri beberapa anak, maka di kembangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat sekitar untuk di ajak berjamaah seminggu sekali. Kegiatan ini diadakan setiap hari selasa, yang meliputi jamaah sholat Dhuhur, pengajian tentang ilmu agama sampai jamaah sholat Ashar.
Alhamdulillah, apa yang dirintis oleh Mbah KH. Mohammad Shoib dapat dipertahankan sampai pada saat ini. Bahkan boleh di bilang dapat berkembang dengan baik.
III. Tahap Pengembangan
Di era 70an, putra putri Mbah KH. Mohammmad Shoib telah pulang dari pindok pesantren, tempat mereka mengaji memperdalam ilmu agama. Antara lain dari pondok Makam Agung Tuban, Langitan, dan peterongan Jombang.
Berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh, maka putra putri beliau mulai menata ulang pondok pesantren. Baik secara administrasi maupun menejemennya.
Tepatnya pada tahun 1975 pondok pesantren mulai dibenahi baik tempat, sistem pendidikan, jadwal kegiatan dan pendanaannya. Adapaun yang terjun langsung dalam pembenahan pondok pesantren adalah putra belilau KH. F Ghufron Achmadi.
Sampai pada tahun 1977 para santri masih tertata dalam kegiatan pondok pesantren. KH. F Ghufron Achmadi mulai memikirkan perlu adanya perhatian tentang masa depan santri untuk menghadapi persaingan dalam era globalisasi. Itu berarti Santri juga perlu pendidikan formal. Maka lahirlah Madrasah Tsanawiyah pada tahun ini. Dengan fasilitas seadanya sesuai dengan kondisi pondok saat itu.
Setelah tamatan Madrasah Tsanawiyah menumpuk selama enam tahun (1979-1983). Ternyata banyak alumni MTs yang tidak dapat melanjutkan jenjang yang lebih tinggi yang hanya ada di kota. Sebabpada saat itu di kecamatan Sugio belum ada Sekolah Menengah Atas (SMA) dan setingkatnya.
Sehingga alumni MTs yang ingin melanjutkan jenjang yang lebih tinggi harus ke kota seperti kalau melanjutkan PGAN harus ke Mojokerto atau ke Bojonegoro dan bila ingin melanjutkan SMA harus ke Lamongan. Melihat situasi ini maka pondok pesantren pada tahun 1983 memberanikan diri mendirikan SMA, sekaligus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darul Ulum. Pendidikan formal yang ada di beri nama Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum (LP3DU).
Dengan pengelolahan pendidikan dalam pondok pesantren yang berjalan baik. Maka pemerintah berminat untuk kerja sama dengan pondok pesantren. Pemerintah menawarkan sekolah negeri. Dengan pembagian, tanah disediakan pondok pesantren, gedung dan guru disediakan oleh pemerintah. Pondok pesantren juga berhak memasukkan pendidikan agama. Maka tepatnya pada tahun 1996, didirikanlah SMPN 3 Sugio di kompleks peondok pesantren sunan drajat. Atas kerja sama pemerintah dengan pondok pesantren
IV. Masa Sekarang
Hasil jerih payah sesepuh dan dukungan generasi penerusnya. Terwujudlah Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Darul Ulum memiliki 75 tenaga pengajar dan 975 anak murid. Bahkan sekarang pengajian setiap hari selasa dimantapkan dengan Thoriqoh Qodriyah Wan Naqsyabandiyah.